Perhatian bagi Para Pengkotbah Injil akan Penafsiran Dangkal dari Injil Kemakmuran

PROSPERITY 2

Rasul Paulus menasehatkan Timotius, anak rohaninya, seorang penginjil muda untuk berhati-hati dalam mengajarkan Injil kepada jemaat. Ada beberapa ajaran sesat pada masa itu yang harus diwaspadai oleh Timotius sebagai seorang penginjil, pengkotbah dan pemimpin jemaat yang masih muda. Jangan sampai Timotius membiarkan ajaran-ajaran sesat itu meracuni jemaat apalagi ikut mengajarkannya. Paulus berpesan,  ”Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu”.

Beberapa ajaran sesat yang bertentangan dengan injil yang benar dan sehat dalam surat Rasul Paulus itu antara lain ajaran dongeng dan silsilah, takhyul, hukum Taurat menggantikan injil anugerah  untuk mendapatkan keselamatan, melarang orang kawin, ajaran kebangkitan orang Kristen sudah berlangsung ( Himeneus dan Filetus). Paulus juga memperingatkan,

‘ Karena akan datang waktunya orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi  mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan-keinginannya, mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan  membukanya bagi dongeng ( 2 Tim 4: 3-4).

 

Bagaimana dengan konteks gereja saat ini? Ajaran-ajaran sesat seperti apa yang harus diwaspadai oleh pengkotbah-pengkotbah Injil di abad ke-21 ini? Siapakah yang berwenang untuk memfatwakan ajaran A sesat, ajaran B benar? Buku-buku sejarah gereja dengan aliran-aliran gereja mungkin bisa menjawab pertanyaan luas  ini, misalnya adanya ajaran yang menentang  doktrin-doktrin ortodoks gereja secara universal, seperti Tri Tunggal, Keilahian Yesus Kristus, Alkitab wahyu Allah dll. Ajaran-ajaran yang menentang doktrin-doktirn utama gereja universal bisa kita deteksi dengan segera, apalagi sudah banyak para teolog yang membahasnya.

 

INTERPRETASI ITU PENTING !

Yang menjadi sulit adalah ketika ajaran itu tidak menentang doktrin-doktrin utama Kristen, memakai Alkitab, berdoa dalam nama Tuhan Yesus, percaya Tri Tunggal, menyanyikan lagu-lagu rohani yang memuliakan Yesus bahkan aktif dalam pemberitaan Injil dan menolong yatim piatu dan orang miskin, tetapi tidak benar  dalam menafsirkan dan mengaplikasikan ayat-ayat tertentu dalam Alkitab, menafsirkan ayat-ayat tanpa melihat konteks dan latar belakang, tata bahasa, metode hermeneutic yang benar, “memperkosa ayat agar menurut agenda sendiri”, alegoris,spritualisasi, mistik, pengalaman pribadi dijadikan doktrin universal, mencomot ayat-ayat sesuai selera untuk membuktikan tanpa memperhatikakan konteks (proof texted) ,menekankan bahkan melebih-lebihkan hal-hal yang tidak essensial bukannya Injil Keselamatan Yesus Kristus  yang menekankan tranformasi rohani,dosa dan pertobatan, penderitaan memikul salib, menyangkal diri dan kekekalan.

 

Salah satunya ajaran yang “sepertinya tidak ada “masalah teologis” dan  menghasilkan gereja-gereja besar dengan ribuan jemaat yang dipimpin pendeta-pendeta kesohor dan kaya,

yaiitu Injil Kemakmuran atau “Prosperity Gospel”. Kita tidak mempermasalahkan besarnya gedung gereja, semaraknya music mereka, atau apapun itu yang sifatnya fisik, semua itu tidak essensial tapi ajaran dari Alkitab yang dikotbahkan di  mimbar yang jadi makanan pokok warga gereja itu yang sangat penting untuk diperhatikan. Makanan rohani apa yang diberikan bagi jemaat itulah yang harus kita cermati dengan hati-hati. Bagaiamana ayat-ayat Firman Tuhan ditafsirkan dan dikotbahkan di mimbar itulah yang harus diperhatikan baik-baik.

 

Berikut ini  saya kutip pendapat beberapa teolog senior tentang definisi  dari apa yang dimaksud dengan Injil Kemakmuran.

Ir. Herlianto, M.Th. mendefinisikan apa itu teologi sukses: “teologi yang menekankan bahwa Allah kita adalah Allah yang maha besar, kaya dan penuh berkat dan manusia yang beriman pasti akan mengalami hidup yang penuh berkat pula, kaya, sukses dan berkelimpahan materi” Ajaran demikian memang menarik karena menawarkan kepada manusia ajakan untuk menyembah ALLAH dan tetap mencintai MAMON, suatu bentuk pandangan hidup yang mendua yang praktis dan populer pada masa kini.

David W Jones ( Professor Etika Kristen) :

 “Injil Kemakmuran mengajarkan bahwa Allah menginginkan orang-orang percaya sehat jasmaninya, kaya materinya, dan berbahagia. Guru-guru Injil Kemakmuran mendorong para pengikut mereka untuk mendoakan bahkan menuntut berkat materi dari Allah.”

John Piper ( Pastor dan Teolog):

What I mean by the prosperity gospel is a teaching that emphasizes

Gods aim to make believers healthy and wealthy in this life, while it overlooks

or minimizes the dangers of wealth, the biblical call to a wartime

mindset, and the necessity and purposes of suffering.

Terjemahan bebasnya:  Apa yang saya maksud dengan “injil kemakmuran” adalah sebuah ajaran yang menekankan tujuan Allah adalah untuk membuat orang-orang percaya sehat dan kaya dalam hidup ini, sementara itu mengabaikan atau meminimalisir bahaya-bahaya dari kekayaan, panggilan alkitabiah untuk pola pikir waktu perang, dan pentingnya dan tujuan dari penderitaan.

 

Kesalahan Khas dari Injil Kemakmuran :

“Yang minor jadi major, yang major jadi minor.

Yang sekunder jadi primer, jang primer jadi sekunder.

Yang non-essensial jadi essensial, yang essensial jadi non-essensial”

Maksudnya adalah inti  dari pengajaran Injil yang benar adalah kekekalan, kerohanian, itulah yang menjadi penekanan utama dari Yesus, begitu juga kita sebagai guru-guru Injil, sementara soal makanan, minuman dan pakaian keuangan, kesehatan adalah “tambahan”  yang sifatnya “duniawi” jangan dijadikan focus kotbah-kotbah di mimbar bukan berarti itu semua yang sifatnya duniawi atau sementara tidak kita butuhkan. Dalam bahasanya Yesus begini,  “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranya maka semuanya itu(makanan,minuman,pakaian = kebutuhan dasar manusia) akan ditambahkan kepadamu (Matius 6: 33). Maksud Yesus dalam ayat ini adalah kalau mau menjadi murid Yesus yang paling penting atau primer (first) adalah kerohanian yang sifatnya kekal yang terkandung dalam Injil Kerajaan Allah tetapi yang sifatnya jasmani (makanan,munuman,pakaian) adalah sekunder  tidak perlu dikhawatirkan berlarut-larut,bukan berarti kebutuhan jasmni itu tidak penting.

 

Beberapa ayat Alkitab yang ditafsirkan menyimpang untuk memenuhi agenda Injil Kemakmuran: ( Diterjemahkan bebas  dari tulisan David W Jones dan saya tambahkan beberapa kalimat dan ayat untuk memperjelas.)

 

1.      Perjanjian Abraham dalam Kejadian 12, 15, 17,22 adalah satu dari dasar-dasar teologis Injil Kemakmuran.

 

           Kejadian 12:2-3 

2Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.

3  Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”

Kejadian 15:5 

Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.” Maka firman-Nya kepadanya: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.”

 

Menurut  David W Jones, seorang professor etika Kristen, kesalahan-kesalahan dari pengajar-pengajar IK adalah mengajarkan tujuan utama dari perjanjian Allah dengan Abraham adalah agar Allah memberkati Abraham secara materi. Karena orang-orang percaya sekarang adalah anak-anak rohani Abraham maka kita telah mewarisi berkat-berkat finansial  ini.Masih menurut David W Jones, contohnya Kenneth Copeland dalam bukunya “The Laws Of Prosperity” (1974)” Karena Perjanjian Allah telah ada dan kemakmuran itu adalah penyedeiaan dari perjanjian ini, sadarilah kemakmuran adalah milikmu sekarang.” Untuk mendukung klaim ini, guru- guru IK suka mengutip Galatia 3: 14 yang mengacu kepada :berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain dalam Yesus Kristus”, ditafsirkan sebagai berkat-berkat materi, tapi mengabaikan bagian setengahnya yang kedua  bahwa” oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu (berkat keselamatan rohani oleh Roh Kudus). Itulah yang dimaksudkan Paulus bukan berkat kekayaan materi.

 

2.      Penebusan Yesus meluas sampai ke “ dosa” kemiskinan materi (2 Korintus 8:9)

Injil Kemakmuran mengklaim bahwa “ kesembuhan jasmani dan kemakmuran financial telah disediakan dalam penebusan, contohnya pernyataan dari Copeland

 “ prinsip dasar kehidupan Kristen adalah menegetahui bahwa Allah meletakkan dosa kita, penyakit, sakit, kesusahan. duka, dan kemiskinan kepada Yesus di Kalvari”

Ayat-ayat tentang penebusan yang salah ditafsirkan misalnya 2 Korintus 8:9 yang berbunyi , 9  Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya. Ayat-ayat ini ditafsirkan secara dangkal seolah-olah Paulus mengajarkan tentang peningkatan kekayaan materi bagi orang-orang percaya sebagai bagian dari Penebusan Yesus.

3.      Orang Kristen me\\[\\\\\]mberi agar mendapatkan kompensasi materi dari Allah 

( Markus 10: 30)\b

orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.

Satu dari ciri-ciri yang paling menonjol dari guru-guru injil kemakmuran adalah perasaan yang mendalam dalam memberi. ‘Kemakmuran sejati adalah kemampuan menggunakan kuasa Allah untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia.Kita dipanggil untuk memberitakan Injil ke dunia”. Pernyataan-pernyataan demikian sepertinya mulia dan tulus tetapi yang menjadi motivasi pendorongnyan adalah “hukum kompensasi” berdasarkan Markus 10: 30. Orang Kristen haruslah memberi dengan murah hati kepada sesama karena ketika mereka melalukannya Allah mengembalikannya lebih banyak. Ini menjadi sebuah siklus kemakmuran yang selalu meningkat. Beri 10 $ dan terima 1000 $ dan terima 100.000 $ seperti yang diajarkan seorang pengkotbah injil kemakmuran. 

Yesus mengajarkan kalau memberi jangan harap kembali ( Lukas 10: 35), …  Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Tapi pengkotbah injil kemakmuran mengajarkan  alasan memberi karena akan mendapatkan ganti yang banyak. Menabur sedikit menuai sedikit, menabur banyak (konteks uang) , menuai banyak. 

 

4.      Iman adalah kuasa rohani yang lahir dari diri sendiri, yang membawa kepada kemakmuran.

 

Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu.” ( Matius 9: 29)

 

…”  yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan.’ ( Roma 3: 22)

 

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” ( Ibrani 11: 1)

Iman menurut doktrin Kristen ortodoks adalah menjadi percaya kepada pribadi Yesus Kristus. Guru-guru injil kemakmuran mengajarkan sangat berbeda yaitu “ iman adalah sebuah kekuatan roh, sebuah energy roh, sebuah kuasa roh. Kuasa imanlah yang membuat hukum-hukum dunia roh itu berfungsi”. Jadi menurut teologi kemakmuran iman bukanlah kehendak yang berpusat pada Allah, pembenaran Allah, tetapi kuasa roh tindakan manusia yang ditujukan pada Allah. Apalagi mengajarkan iman yang terutama untuk mendapatkan materi bukannya pembenaran dihadapan Allah.

5.      Doa adalah alat untuk memaksa Allah untuk mendapatkan kemakmuran

( Yakobus 4: 2)

Para pengkotbah injil kemakmuran sering mengajarkan ‘ kita tidak memperoleh apa-apa karena kita tidak berdoa ( Yak 4: 2). Mereka mendorong kita berdoa untuk mendapatkan kesuksesan pribadi dalam semua area kehidupan.

Apakah salah untuk mendoakan berkat-berkat pribadi? Tentunya tidak. Kesalahannya adalah terlalu menekankan, melebih-lebihkan peran manusia, menjadikan doa sebagai alat yang bisa digunakan untuk memaksa Allah untuk memberikan keinginan hawa nafsu semata. Padahal di ayat berikutnya ditegaskan

(Yakobus 4: 3) bahwa  Allah tidak menjawab doa-doa egois yang tidak menghormati nama-Nya

 

       Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.

 

Injil kemakmuran menjadikan hubungan Allah dan manusia sebagai “a quid pro quo transaction”. Allah direduksi menjadi sejenis “cosmic bellshop” yang hadir untuk kebutuhan dan keinginan ciptaan-Nya ( James Goffs).

 

Berikutnya saya tambahkan beberapa lagi ayat yang ditafsirkan menurut agenda injil kemakmuran. Kesalahan yang paling mendasar dari injil kemakmuran yaitu digerakkan oleh hermeneutic yang cacat.

KISAH AYUB  dalam AYUB  1: 8-10.

 

“Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu.” ( Ayub 1: 10)

 

Pengkotbah injil kemakmuran bisa menginterpretasikan kisah Ayub seperti ini  yaitu  Ayub adalah seorang yang saleh setiap hari memberikan persembahan korban kepada Allah. Iblis tahu bahwa ketika Ayub memberi itu Allah menaruh pagar perlindungan disekelilingnya dan hartanya. Makanya, kita harus juga memberi supaya kita diberkati dan harta kita biisa dilindungi dari Iblis dengan pagar perlindungan dari Allah.Dan kalau kita tekun berdoa seperti Ayub maka Tuhan akan memberikan dua kali lipat dari segala kepunyaan kita yang hilang. Model interpretasi seperti ini ciri khas dari pengkotbah-pengkotbah injil kemakmuran yaitu membaca aya-ayat sekilas dan langsung bergerak dari teks ke aplikasi individual.

 

Padahal sebenarnya pesan penting dari kisah Ayub adalah sekalipun kita menderita, semua harta kita hilang, terkena sakit penyakit, anggota keluarga meninggal karena musibah, kita tetap setia kepada Tuhan dan tidak menghujat Tuhan. Tuhan yang memberi Tuhan yang mengambil, terpujilah Tuhan. Mengutip Steven Morales yang menjelaskan bahwa Kitab Ayub bukanlah sebuah kisah tentang bagaimana Setan menyerang Ayub untuk merampas kekayaannya hanya agar Allah membalikkan serangan Setan dan mengubahnya jadi berkat. Itu adalah tentang seorang laki-laki yang setia kepada Allah diuji dan meskipun dia tidak mengerti alasan-alasan kehlangan-kehilangannya, dia tidak pernah ragu akan kebaikan Tuhan ( Ayub 13:5). Itu adalah tentang seorang laki-laki yang mengasihi Allah meskipub dia kehilangan semua hartanya di bumi dan anak-anaknya. Itu tentang penderitaan ( Ayub 1: 13-22) dan tentang Allah yang tetap kita percayai sekalipun mengalami kehilangan segalanya.

DOA YABEZ  dalam 1 Tawarikh 4: 9-10    

9  Yabes lebih dimuliakan dari pada saudara-saudaranya; nama Yabes itu diberi ibunya kepadanya sebab katanya: “Aku telah melahirkan dia dengan kesakitan.”

10  Yabes berseru kepada Allah Israel, katanya: “Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari pada malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku!” Dan Allah mengabulkan permintaannya itu.

 

Bruce Wilkinson seorang pendeta protestan menulis buku tentang doa Yabez pada tahun 2000 yang kemudian menjadi buku yang sangat laris sampai lebih dari 4 juta kopi di Amerika Serikat saja. Saya perkirakan buku Doa Yabez lebih laris dari pada buku-buku tentang doa Bapa kami, doa yang secara jelas  harus orang percaya doakan seperti  yang diajarkan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya.

 

Doa Yabez itu sendiri tidaklah salah dan merupakan firman Allah yang harus kita hormati, yang menjadi masalah ialah bagaimana kita mendoakan doa Yabez dan dalam konteks tulisan ini yaitu bagaimana kita menafsirkan dan mengkotbahkan doa Yabez di mimbar.

 

Saya mengutip tulisan David Schrock Phd  tentang kesalahan dalam menafsirkan doa Yabez di kalangan pengkotbah injil kemakmuran: Alih-alih dari pada melihat Yabez dalam narasi 1-2 Tawarikh yang berhubungan dengan janj-janji perjanjian Allah kepada Israel yang digenapi dalam Kristus, buku Doa Yabez dan banyak lagi buku-buku dan kotbah-kotbah yang seperti  itu langsung bergerak dari tekt ke aplikasi individu. Dnegan mengklaim sebuah janji dari ayat-ayat sebagai milik mereka sendiri, orang-orang itu secara tidak sengaja mengabaikan Kristsus dan salib-Nya- sumber sejati dari semua berkat.

 

Perlu kita ingat kembali apa itu doa dalam Kristen,yaitu komunikasi dua arah antara Allah dengan manusia yang didalam doa itu ada permohonan ( bukan tuntutan,klaim), ucapan syukur, penyembahan,penyerahan kehendak kepada Bapa. Doa sejati bukanlah seperangkat mantra dan jampi-jampi yang digunakan untuk mendapatkan jawaban tertentu dari Alllah. Allah bukanlah sebuah jin dalam sebuah botol, menunggu untuk dibujuk keluar agar Dia bisa mengabulkan permintaan. Doa adalah tentang meluruskan pikiran dan hatimu dengan kehendak Allah yang berdaulat.

 

Sebelum mengkotbahkan doa Yabez di mimbar perlu diingat latarbelakang dari siapa itu Yabez. Yabez yang artinya sakit, kesakitan adalah seorang laki-laki yang tidak jelas siapa ayahnya, apakah mati terbunuh waktu perang atau ibunya diperkosa sehingga lahirllah dia. Yabez yang adalah ketururunan bangsawan dari suku Yehuda, tidak mempunyai ayah,sehingga dia tidak mempunyai warisan tanah dan sebagai seorang pengungsi di tanah itu dia memohon kepada Allah dan Allah memuliakannya dan mengabulkan permohonannya. Kesalahan penafsiran dan aplikasi dari doa Yabez jika jemaat diajarkan untuk menghafalkan dan mendoakan doa Yabez berulang-ulang seperti mantera, dua kali atau tiga kali sehari, ditempelkan di tempat tidur atau kamar mandi, ditaruh di dompet dsb supaya Allah mengabulkan doa mereka. Ingatkan jemaat bahwa Yesus mengajarkan murid-murid-Nya doa “ jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.

 

Jadi kalau kita mau mengkotbahkan doa Yabez janganlah kita mengajarkan jemaat bahwa doa Yabez itu seperti atau sebagai sebuah mantera atau jampi-jampi magis untuk berkat-berkat materi. Ajarkanlah bahwa seperti Yabez yang menderita di tanah itu Allah berjanji untuk menghibur mereka yang beriman kepada-Nya dan janji penghiburan Allah itu digenapi dalam Yesus Kristus. 

PERPULUHAN DALAM MALEAKHI 3: 8-11

8 “Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?” Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus!”. 9 “Kamu telah kena kutuk, tetapi kamu masih menipu Aku, ya kamu seluruh bangsa!”.

10  Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.

11  Aku akan menghardik bagimu belalang pelahap, supaya jangan dihabisinya hasil tanahmu dan supaya jangan pohon anggur di padang tidak berbuah bagimu, firman TUHAN semesta alam.

 

 Berikut ini saya mengutip dari GHA Bible Institute (Givingi2God.com):

Pemerintah di Nigeria sangat marah kepada gereja yang sangat kaya raya sedangkan jemaat masih dalam 60% kemiskinan. Majalah Forbes menulis pada Maret 2010-Maret 2011 beberapa pendeta di Nigeria membeli pesawat jet pribadi senilai 240 juta US$ dalam waktu satu tahun. Ada satu pendeta mempunyai lebih dari satu pesawat pribadi. Tetapi di beberapa kilometer dari gereja begitu banyak manusia yang tidur di jalanan dan gereja tidak berbuat sesuatu sehingga pemerintah sedang merencanakan undang-undang supaya gereja membayar pajak untuk kesejahteraan.

 

 Mengapa saya mengutip berita ini? Apa hubungannya dengan pengajaran perpuluhan dalam Kitab Maleakhi? Hubungannya adalah para pendeta-pendeta itu  bisa membeli pesawat pribadi dan kaya raya salah satunya hasil dari mengajarkan Maleakhi 3 : 8-11 yang dikotbahkan menurut agenda injil kemakmuran di mimbar. Saya hanya mengangkat bagaimana mereka menafsirkan dan mengaplikasikan Maleakhi 3: 8-11, apakah sudah sesuai dengan prinsip-prinsip hermenutik dan homiletic yang benar dan bisa dipertanggungjwaban. Ini bukan soal menggugat tradisi perpuluhan di sejumlah gereja tertentu atau menjelek-jelekkan pribadi-pribadi tertentu atau sinode-sinode tertentu, memang saya akui sadar tidak sadar sepertinya selama ini doktrin perpuluhan adalah doktrin yang tabu diperdebatkan. Tapi mari kita melihat secara jernih dari sudut pandang hermenutik dan homiletic yang benar dan apakah itu mencerminkan dan memuliakan Injil Yesus Kristus secara gambaran besarnya.

 

.Saya  melakukan browsing di Google tulisan-tulisan devotional dari kubu pro perpuluhan, contohnya ini:

 

Apakah persepuluhan itu?  Secara matematika, persepuluhan adalah sepersepuluh.  Persepuluhan adalah sepuluh persen dari hasil pendapatan bersih seseorang.  Pendapatan yang dimaksud tidak harus berupa uang tetapi bisa juga berupa barang, dan itu harus dikembalikan kepada Tuhan.  Mungkin ada di antara kita yang memberikan persepuluhan lebih dari seharusnya dibayar, dengan harapan Tuhan juga akan menambah berkat untuk kita;  semisal gaji saya sebulan Rp. 2.000.000, seharusnya persepuluhan yang harus saya kembalikan kepada Tuhan adalah Rp. 200.000, tapi saya memberinya lebih yaitu Rp. 250.000.  Bagaimana?  Persepuluhan itu hanya sepuluh persen dari total pendapatan, dan pemberian yang melebihi sepuluh persen dianggap sebagai persembahan.”                                     Penulis ini mengutip Maleaki 3: 10 sebagai referensi. Kesalahannya mengutip ayat tapi tidak dibahas secara konteks langsung menerapkan aplikasi individual, dan terjadi “eisegese” yang sekilas kelihatannya rohani. 

 

Ada lagi yang ini:

Perbedaannya, persembahan persepuluhan adalah bentuk persembahan yang secara langsung telah Tuhan tentukan jumlah prosentasenya, sedangkan persembahan biasa tidak ditentukan jumlahnya.

Penulis  ini mengutip Ulangan 14: 22: “Haruslah engkau benar-benar mempersembahkan sepersepuluh dari seluruh hasil benih yang tumbuh di ladangmu, tahun demi tahun”. Kesalahannya tipikal dari guru-guru injil kemakmuran, mengutip ayat-ayat pendukung tapi tidak dibahas secara konteks, lansung  bergerak ke aplikasi individual.

 

Dari hasil riset singkat sederhana di Google yang saya lakukan ternyata untuk doktrin perpuluhan tidak mutlak dikotbahkan oleh kubu guru-guru injil kemakmuran yang identik dengan kubu karismatik pentakosta walaupun tidak mutlak juga buktinya Pdt DR Erastus Sabdono Mth dari GBI Rehobot pesan-pesan dari kotbah-kotbah beliau justru mengkoreksi ajaran-ajaran injil kemakmuran bahkan terakhir mengadakan seminar tentang perpuluhan yang membahasnya secara lengkap dari segi hermeneutik, historis teologis dan etika teologis dari doktirn perpuluhan. Tapi yang agak “mengagetkan” saya ternyata ada juga sejumlah teolog-teolog  dengan banyak gelar-gelar akademis bahkan doktor sampai phd  dalam bidang teologia mendukung doktrin perpuluhan dengan alasan tidak ada satu ayat pun di Alkitab bahwa Yesus melarang atau menghentikan perpuluhan di Perjanjian Baru dan membayar perpuluhan ke gereja Perjanjian Baru bukan berarti kembali kepada hukum Taurat tapi hanya menjalankan “prinsipnya”, perpuluhan sudah ada sebelum Taurat (perpuluhan Abraham) dan persembahan perpuluhan itu penting untuk misi penginjian,program gereja,operasioanal gereja dsb.Dari argumentasi para pro perpuluhan itu tidak ada yang beragumentasi dari  pendekatan ilmu hermeneutic terhadap Maleakhi 3: 10, hanya “devotionalize” dan “normative” serta “preachy”.  Seharusnya para pendeta yang memiliki latarbelakang teologia akademis yang cukup tinggi bahkan sampai Phd bisa membahas  Kitab Maleaki secara akademis dengan prinsip-prinsip hermenutik yang benar yang pastinya mereka sudah pelajari dan berani berpikir secara jernih “sebagai cendekiawan teologia” untuk mempertanggungjawabkan gelar-gelar akademis teologia yang mereka miliki tanpa ada kepentingan tertentu baik secara organisasi maupun pribadi. Jemaat yang awam membutuhkan pencerahan bukan “pengaburan”.

 

Seperti kesaksian  Russ Kelly Phd yang aktif membahas tentang  doktrin persembahan perpuluhan secara ilmu teologia yang murni dan akademis sesuai dengan gelar Phdnya berkata:

 

 “Almost every person I contact on the Internet, they tell me the same story, where they go to their pastor—no matter what kind of church it is, Baptist, charismatic, Methodist, you name it—and start asking questions about tithing, they are told to shut up, to be quiet, to leave the church,” he told CBS.

 

Saya terjemahkan secara bebas: “Hampir setiap orang yang saya kontak di internet, mereka menceritakan cerita yang sama ketika mereka bertanya kepada pastor mereka-tidak peduli jenis gereja apa, Baptis, karismatik,Methodis, dsb -dan ketika mereka  mulai bertanya tentang perpuluhan kepada pastor mereka, mereka disuruh tutup mulut, diam, keluar dari gereja.

 

Saya langsung saja memaparkan hasil penelitian teologis dari Russ Kelly Phd (www.tithing-russkelly.com) tentang Kitab Maleaki khususnya dalam konteks kesalahan penafsiran dan aplikasi Kitab Maleaki yang dipakai sebagai rujukan Alkitab untuk memberikan persembahan perpuluhan ke gereja  oleh para pengkotbah-pengkotbah tertentu. Russ Kelly Phd mengurutkan hermenutik yang cacat dari pengkotbah tithing berikut ini:

 

1. Maleaki adalah dalam konteks  Israel Perjanjian Lama  ( Maleaki 1: 1;4:4; Neh 10: 28-29). Maleaki bukan ditujukan untuk Gereja Perjanjian Baru.

 

2. Maleaki ditujukan kepada imam-imam yang tidak jujur (pelayan-pelayan dialtar) yang telah tidak taat, tidak menghormati, mencuri dari Allah dan telah dikutuk (1:6-14: 2:1-10, 13-17; 3 ; 4 : mengikuti kata ganti  “kamu ” mulai pasal 1:6).

 

3. Perpuluhan dari  Mal 3: 10 adalah hanya berupa “makanan” dari dalam tanah suci Israel  lebih dari 1000 tahun sejak pertama kali dijelaskan dalam Imamat 27: 30-34

 

4. Gereja tidak pernah dinamakan sebuah “rumah perbendaharaan” (a storehouse). Menurut fakta sejarah, tidak ada bangunan gedung gereja resmi hingga 313 M ketika Kristen diresmikan

 

5. Guru-guru perpuluhan modern pastilah mengabaikan sebuah interpretasi harfiah (literal interpretation) dari Maleaki 3: 10-12. Terjemahan harfiah yang masuk akal mengajarkan bahwa deskripsi dan berkat-berkat itu hanya mengacu kepada makanan ( bukan uang, saya tambahkan)

 

Cara menafsirkan Maleakhi 3: 10 yang tidak secara literal tapi alegoris dan devotional, keluar dari konteks historis, grammar (pemakaian kata ganti orang “kamu” ditujukan kepada jemaat padahal konteks kata ganti “kamu” adalah para imam yang tidak jujur, lihat Maleaki 1:6), tidak konsisten (disatu sisi mengajarkan orang Kristen sudah bebas dari kutuk oleh penbusan Yesus tapi mengintimidasi jemaat akan dikutuk oleh Tuhan jika tidak bayar perpuluhan) bahkan hyper alegoris (belalang pelahap diartikan pencuri,perampok,penipu, kerugian bisnis dsb, penafsiran literal yang benar belalang artinya ya tetap belalang,  tingkap-tingkap langit diartikan pintu rejeki akan dibukakan, keuntungan usaha akan turun dsb. yang benar adalah tingkap-tingkap langit dibukakan artinya harfiahnya Tuhan akan mencurahkan hujan yang dibutuhkan untuk usaha pertanian di Israel). Itulah adalah contoh-contoh kesalahan dalam menafsirkan Kitab Maleaki yang perlu diperhatikan para pengkotbah Injil yang serius menjaga ajarannya.

 

Bagi para teman-teman yang sudah melayani dalam pengajaran  Alkitab. aktif di mimbar , penginjil-penginjil muda dan juga yang masih belajar di seminari Alkitab, sekolah-sekolah teologia hati-hatillah dalam membaca buku-buku kotbah yang mengandung agenda injil kemakmuran biasanya dari Amerika Serikat, jangan asal copy paste dan langsung dikotbahkan di mimbar tanpa menerapkan hermeneutik yang benar dan etika homiletik yang benar.Saya jadi ingat waktu kuliah di seminari dulu buku-buku yang banyak menjadi “handbook’ dari sejumlah teman-teman adalah yang ditulis oleh guru-guru injil kemakmuran dan pastilah kelak akan mempengaruhi kotbah-kotbah mereka di mimbar.Saya hanya mengingatkan apa yang  Rasul Paulus pesankan kepada anak rohaninya Timotius : ”Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu”.

 

Liburan panjang, Juli 2015

JS

 

 

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: