“EVANGELiZiNG WITH LOVE” alkitabiahkah? is it biblical?

Menginjil itu memiliki tujuan yang bukan intelektual atau mind place tetapi batin atau heart place. Kalau untuk mencapai intelektual dari seseorang yang belum percaya, penedekatannya adalah apologetika, atau dialektika filsafat yang berbasiskan rasio. Namun untuk mencapai hati atau batin seseorang maka pendekatannya adalah cinta, kasih, yaitu melalui sikap simpati dan empati.
Sikap empati ini orientasinya adalah orang yang belum percaya itu sendiri, masalah-masalahnya,kebutuhan-kebutuhannya,keinginan-keinginannya,kerinduan-kerinduannya, bahkan ketakutan-ketakutannya, bukan memaksakan doktrin Injil sebagai suatu “produk” yang ditawarkan.
Menginjil dengan kasih orientasinya pada orang bukan doktrin Injil ( hal ini akan diajarkan belakangan setelah hatinya dimenangkan ).
Sebagai perbandingan prinsip “Marketing with love” yang mencapai hati konsumer sebagai orientasinya bukan orientasi produk.
Ini sama saja dengan teladan Yesus yang mati disalibkan bukan untuk memaksakan doktrin agama tetapi karena kasih-Nya untuk manusia yang berdosa, karena kadang doktrin agama itu dingin dan angkuh.

” apa yang mengalir dari hati akan masuk ke hati”

Bagi teman-teman yang tidak setuju dengan pendekatan penginjilan “kebutuhan” silahkan beri comment, mungkin saya salah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: